Suasana khidmat dan penuh rasa syukur menyelimuti acara Khataman Al-Qur’an massal siswa kelas IX SMP Negeri 10 Banjarmasin. Rutinitas tahunan ini bukan sekadar seremoni tanda selesainya membaca 30 juz Al-Qur’an, melainkan tonggak sejarah penguatan benteng iman siswa sebelum meninggalkan bangku SMP.
Membuka rangkaian acara, grup maulid habsyi sekolah, Al-Zuhri, melantunkan syair-syair pujian kepada Rasulullah SAW dengan syahdu sebelum para siswa kelas IX memulai tadarus bersama.
Kepala sekolah menyampaikan bahwa khataman ini adalah awal dari perjalanan panjang untuk mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an. Sekolah berharap pembiasaan membaca kitab suci ini terus melekat dan menjadi penuntun masa depan seluruh alumni.





Dalam tradisi batamat Al-Qur’an suku Banjar, penyajian makanan tradisional di depan orang yang berkhatam memiliki makna simbolis dan teologis yang sangat mendalam:
• Nasi Lakatan (Ketan) yang Lengket: Tekstur lengket dari ketan merupakan simbol harapan (sanepo) agar Al-Qur’an beserta nilai-nilai kebaikan di dalamnya dapat melekat kuat pada ingatan dan hati sang pembaca. Nilai Al-Qur’an diharapkan tidak menguap begitu saja setelah lulus sekolah, melainkan terus mengikat erat perilaku mereka di masyarakat.
•Hinti (Unti Kelapa Manis): Rasa manis dari campuran parutan kelapa dan gula merah melambangkan bahwa mengamalkan tuntunan Al-Qur’an akan membuahkan kehidupan yang manis, harmonis, dan membawa berkah bagi sesama.
•Intalu Pinarang (Telur Rebus Merah): Kulit telur yang diwarnai merah melambangkan cangkang kehidupan. Makna filosofisnya adalah sebagai penerang hati (menerangkan hati) dalam menerima, menyerap, dan mengaplikasikan ilmu-ilmu agama yang baru di jenjang yang lebih tinggi.








Tinggalkan Balasan